Mencintaimu

Mencintaimu adalah berlayar ke bulan, mengunjungi desa tua tempat segala dongeng yang pernah kita dengar berasal.

Mencintaimu adalah merabai detak nadi, menggubah setiap nafas menjadi puisi.

Mencintaimu adalah meneguk teh melati yang kau seduh setiap pagi, untukku, hanya untukku, lalu kita duduk menikmati suara-suara di permulaan hari.

Mencintaimu adalah kesederhanaan berbagi kebahagiaan.

Bahagia adalah mencintaimu, dan membela segala apa yang kamu perjuangkan sebelum hidup berkesudahan.

(November 30, 2011)

Cemburu

Lebaran 1999 adalah sebuah tragedi. Muntab-begitu nama yang diingat tetangganya dan yang tertera di koran-menjemput ajalnya sendiri dalam sebotol Baygon yang dicampur tiga macam obat pereda flu. Kampung heboh, ada yang bilang mayatnya ditemukan dengan mulut berbusa di atas lemari, ada yang bilang di kolong tempat tidur. Di antara takbir yang masih menggema seantero kampung, suara Bang Haji Romli menyela mengumumkan kejadian hampir mustahil itu. Serak suaranya, menangis karena hanya dirinya dari semua tetangga dekat yang belum sempat bersalaman maaf-memaafkan dengan almarhum. Ada pemakaman di lebaran 1999 yang dihadiri hampir semua masyarakat pribumi maupun pendatang yang tidak mudik. Maka hari itu adalah lebaran paling kelabu sepanjang sejarah hidupku di kampung ini.

Sebelas tahun kemudian, pagi tadi di depan warung sayur, sambil lalu ibu-ibu menguak satu cerita. Musabab Muntab bunuh diri dulu tak lain karena sakit hati lantaran perempuan yang dia cintai tak lagi punya niat kembali ke Bekasi karena ia sudah menikah dengan cinta pertama masa kecilnya tiga hari sebelum Sholat Ied. Aku baru mendengar cerita itu dan mengingat sekilas soal tragedi masa lalu. Sontak langsung terpikir di otak bahwa kepatah-hatian yang berasal dari benih cemburu ternyata lebih berbahaya dari sebilah pisau jagal.

Sepanjang jalan pulang aku melihat dunia sekelilingku, menyadari ketidakseragaman hidup dan tiba-tiba entah kenapa semua orang nampak saling cemburu satu sama lain.

Cemburu kulihat melesat bersama sebuah sepeda motor yang ngebut menyalip angkot dan hampir menceburkan dua anak SD  yang asik mengayuh sepedanya sambil tak jelas mendendangkan lagu Korea ke comberan tepi sekolah. Menularkannya pada pedagang makaroni yang sambil mendorong gerobak kecilnya segera memaki itu pembalap kampung. Cemburu adalah pekak suara telinga yang mendengar speaker TOA mesjid di pinggir jalan menawarkan nirwana kepada bapak/ibu/saudara pengguna jalan yang setengah hati melempar koin gopek kembalian beli rokok atau sebungkus cabai bawang. Lalu tersungging senyum ramah perempuan berusia 63 tahun pada Pak Lurah berkacamata jengkol sedang memanaskan mesin mobil dinas yang menulikan derajatnya ketika nenek itu berkata, “Kueee Pak.”

Cemburu adalah memandang sekolah yang gedungnya kini bertingkat-tingkat namun iri pada fasilitas yang dulu tak ada itu. Kemudian dengan sok bermoral dan wawasan sempit memandang rendah anak-anak generasi lebih muda, menganggapnya malas, menyalahi kurikulum, memelototi telepon genggam layar sentuh di tangan mereka dan menganggap perkembangan negara sebagai negara pasar terbesar berhasil memeloroti minat belajar. Cemburu juga menyapa seorang tukang becak yang tetap ceria menunggu pelanggan langka memanggil di ujung gang namun secara tak sadar pernah berkata pada mbok warteg keinginannya untuk jadi tukang ojek saja. Mbok warteg yang sedang menggoreng selembar tempe itu mendukungnya karena merasa penghasilannya mengojek mungkin bisa lebih mumpuni mencoret daftar hutang harian kredit panci.

Di pinggir kali kulihat cemburu menyiasati para pengepul kerupuk kulit yang sedang merendam berton-ton kulit sapi lalu cuek saja kencing di tangga batu kali. Sementara jembatan di atasnya goyang dilewati gerobak pemulung yang memungut sepotong kardus mie dan percaya bahwa suatu hari akan datang malaikat yang menyamar jadi manusia sahaja untuk mencopot semua stiker partai politik di gerobaknya.

Cemburu ialah kejenuhan. Cemburu merupakan bumbu penyedap setiap hubungan yang dijalin antara petugas Siskamling yang menagih iuran bulanan dengan penduduk Rukun Tetangga yang mengeluhkan menu sarapan di meja makannya tak pernah berubah sejak dua insan membubuhkan tanda tangan di buku nikah sampai mereka punya anak lima. Cemburu menciptakan strata lemah-kuat, kaya-miskin, penikmat acara musik lipsing-resital piano klasik Johann S. Bach. Dan merupakan hak asasi setiap makhluk hidup sejak iblis yang cemburu pada Adam diizinkan mengembangbiakkan kesesatan.

Dua buah kue talam dan tegukan kopi terakhir, sambil mengingat bagaimana rupa Muntab dulu, di langit ungu, ah seandainya saja Venus tak pernah cemburu pada Mars. Mungkin.

Cemburu adalah tulisan kecemburuan yang bertele-tele namun tak punya kesimpulan. Karena ia sebenarnya bisa berakhir di titiknya bermula.

****

(Desember 11, 2011)

Kepada Senja

Lima puluh menit sudah, aku–
dan ratusan orang di peron utara
menunggu kereta yang menuju kota
Sementara keramaian masih ‘musat di tengah peron
–karena tepiannya basah, dijambangi hujan
yang baru saja minggat ke tempat ia didoakan datang
Langit jadi nampak malu-malu serupa bayi dipelukan ibu
Pundak-pundak yang tadi termangu kedinginan
rasa ditepuk satu per satu
Membuka obrolan soal apa saja
sembari dimanja suara lirih Charly van Houten
yang muncul dari pengeras suara
di atap ruang
tanpa jendela

Lima puluh menit sudah, aku–
dan ratusan orang di stasiun ini
menunggu kereta yang entah dimana
Ada yang bertanya: memang biasa?
Orang pada diam saja

Lima puluh menit sudah, aku–
dan ratusan orang yang menunggu di sini
Ah! Kepada senja kami menyerah
Kami makin ‘nua
Makin dekat tamat usia!

(November 03, 2011)

Petrichor

IA DUDUK DI ANAK TANGGA KEEMPAT sisi selatan jembatan tua yang sudah jarang dilewati orang. Memangku gitar akustik, setengah sadar melantunkan “Cry Baby Cry” dengan suara setenang Lennon. Matanya yang sayu nampak seperti ingin menangis. Termangu pada keramaian kota yang pecah di bawah sana. Malam makin larut, dunia kian sengkarut. Samar-samar aroma tanah dan dedaunan yang disetubuhi gerimis setengah jam lalu merebak. Bergumul di udara. Seperti bersimpati pada nada-nada yang patah di hati dan sekujur ingatannya. Ia berhenti bernyanyi untuk menyandarkan gitar dan tubuhnya pada besi pembatas jembatan. Diambilnya telepon genggam di saku jeansnya, ditatap layarnya lama-lama bak wajah seorang kekasih lalu mengetukkan benda kotak itu ke segala bidang keras di sekitar–dari lantai dingin sampai kepalanya sendiri–sebelum membuka kotak pesan yang disesaki satu nama nan berisyarat. Ia membaca kembali pesan itu satu persatu, membentuk percakapan sederhana yang menawarkan sesuatu serupa harapan murni pada hidup yang tak bertujuan. Namun rangkaian pesan itu berakhir pada satu kalimat perpisahan singkat yang membuatnya menangis setiap kali membacanya. Ia mengusap sudut matanya dengan ujung lengan kardigan rajut abu-abunya. Lalu memeluk kakinya sendiri erat-erat. Menengadah menatap titik-titik gemetar di langit yang muncul ramai-ramai mengitari bulan biru. Selama beberapa detik ia benar-benar terdiam. Bahkan tak lagi bicara pada dirinya sendiri sampai terdengar ketukan berirama abstrak dari bawah jembatan. Sesosok gadis yang tak asing dalam ingatannya seperti muncul dari danau gelap di tengah isolasi bukit dan hutan. Berhenti di depannya, bungkam namun ekspresi wajahnya jelas menyampaikan kesan bahwa dunia juga telah mengkhianatinya malam ini. Gadis itu lalu duduk bersisian dengannya. Tanpa segan menyandarkan kepalanya di bahu pemuda yang masih agak terkejut dengan segala ketiba-tibaan tanpa syarat ini. Ia menoleh ke pundak yang berat itu. Memerhatikan tubuh yang ternyata lebih rapuh dari dirinya. Ia melepas kardigannya, menyelimuti tubuh si gadis yang gemetar kedinginan. Rambutnya basah jatuh seperti akar serabut, menghalangi aliran sungai hitam dari matanya yang bercelak ke pipinya yang lembut dan bercahaya. Tangan pucatnya meneliti lengan si pemuda sampai ke jemarinya, menawarkan genggaman yang tak perlu ditanggapi karena entah bagaimana mereka telah saling mengerti. Sementara tangan satunya mengetik pesan singkat pada telepon genggamnya, pesan terkirim, dilemparnya benda itu jauh ke tengah jalan. Ia kembali bersandar, kali ini makin merapat. Pemuda itu membuka pesan yang baru tiba di ponselnya. Ia membacanya tanpa menunjukkan ekspresi di wajah. Matanya menyipit menahan air yang muncul kembali. Mengaburkan segala yang nampak di depannya. Ia terpejam seperti bayi. Menunggu disadarkan oleh kenyataan bahwa ada jarak yang lebih dari sekedar ruang yang membuat mereka tetap tak dapat saling mendekat. Karena malam yang makin terlarut pada pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu dilontarkan akan tetap di situ. Membuai mereka dengan kesunyian abadi yang dari zaman ke zaman telah disulam menjadi kantata oleh para penyair di jalan-jalan terbuka. Malam makin larut. Esok–selalu ada esok yang dijanjikan waktu…

(Oktober 14, 2011)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.