Lebaran 1999 adalah sebuah tragedi. Muntab-begitu nama yang diingat tetangganya dan yang tertera di koran-menjemput ajalnya sendiri dalam sebotol Baygon yang dicampur tiga macam obat pereda flu. Kampung heboh, ada yang bilang mayatnya ditemukan dengan mulut berbusa di atas lemari, ada yang bilang di kolong tempat tidur. Di antara takbir yang masih menggema seantero kampung, suara Bang Haji Romli menyela mengumumkan kejadian hampir mustahil itu. Serak suaranya, menangis karena hanya dirinya dari semua tetangga dekat yang belum sempat bersalaman maaf-memaafkan dengan almarhum. Ada pemakaman di lebaran 1999 yang dihadiri hampir semua masyarakat pribumi maupun pendatang yang tidak mudik. Maka hari itu adalah lebaran paling kelabu sepanjang sejarah hidupku di kampung ini.
Sebelas tahun kemudian, pagi tadi di depan warung sayur, sambil lalu ibu-ibu menguak satu cerita. Musabab Muntab bunuh diri dulu tak lain karena sakit hati lantaran perempuan yang dia cintai tak lagi punya niat kembali ke Bekasi karena ia sudah menikah dengan cinta pertama masa kecilnya tiga hari sebelum Sholat Ied. Aku baru mendengar cerita itu dan mengingat sekilas soal tragedi masa lalu. Sontak langsung terpikir di otak bahwa kepatah-hatian yang berasal dari benih cemburu ternyata lebih berbahaya dari sebilah pisau jagal.
Sepanjang jalan pulang aku melihat dunia sekelilingku, menyadari ketidakseragaman hidup dan tiba-tiba entah kenapa semua orang nampak saling cemburu satu sama lain.
Cemburu kulihat melesat bersama sebuah sepeda motor yang ngebut menyalip angkot dan hampir menceburkan dua anak SD yang asik mengayuh sepedanya sambil tak jelas mendendangkan lagu Korea ke comberan tepi sekolah. Menularkannya pada pedagang makaroni yang sambil mendorong gerobak kecilnya segera memaki itu pembalap kampung. Cemburu adalah pekak suara telinga yang mendengar speaker TOA mesjid di pinggir jalan menawarkan nirwana kepada bapak/ibu/saudara pengguna jalan yang setengah hati melempar koin gopek kembalian beli rokok atau sebungkus cabai bawang. Lalu tersungging senyum ramah perempuan berusia 63 tahun pada Pak Lurah berkacamata jengkol sedang memanaskan mesin mobil dinas yang menulikan derajatnya ketika nenek itu berkata, “Kueee Pak.”
Cemburu adalah memandang sekolah yang gedungnya kini bertingkat-tingkat namun iri pada fasilitas yang dulu tak ada itu. Kemudian dengan sok bermoral dan wawasan sempit memandang rendah anak-anak generasi lebih muda, menganggapnya malas, menyalahi kurikulum, memelototi telepon genggam layar sentuh di tangan mereka dan menganggap perkembangan negara sebagai negara pasar terbesar berhasil memeloroti minat belajar. Cemburu juga menyapa seorang tukang becak yang tetap ceria menunggu pelanggan langka memanggil di ujung gang namun secara tak sadar pernah berkata pada mbok warteg keinginannya untuk jadi tukang ojek saja. Mbok warteg yang sedang menggoreng selembar tempe itu mendukungnya karena merasa penghasilannya mengojek mungkin bisa lebih mumpuni mencoret daftar hutang harian kredit panci.
Di pinggir kali kulihat cemburu menyiasati para pengepul kerupuk kulit yang sedang merendam berton-ton kulit sapi lalu cuek saja kencing di tangga batu kali. Sementara jembatan di atasnya goyang dilewati gerobak pemulung yang memungut sepotong kardus mie dan percaya bahwa suatu hari akan datang malaikat yang menyamar jadi manusia sahaja untuk mencopot semua stiker partai politik di gerobaknya.
Cemburu ialah kejenuhan. Cemburu merupakan bumbu penyedap setiap hubungan yang dijalin antara petugas Siskamling yang menagih iuran bulanan dengan penduduk Rukun Tetangga yang mengeluhkan menu sarapan di meja makannya tak pernah berubah sejak dua insan membubuhkan tanda tangan di buku nikah sampai mereka punya anak lima. Cemburu menciptakan strata lemah-kuat, kaya-miskin, penikmat acara musik lipsing-resital piano klasik Johann S. Bach. Dan merupakan hak asasi setiap makhluk hidup sejak iblis yang cemburu pada Adam diizinkan mengembangbiakkan kesesatan.
Dua buah kue talam dan tegukan kopi terakhir, sambil mengingat bagaimana rupa Muntab dulu, di langit ungu, ah seandainya saja Venus tak pernah cemburu pada Mars. Mungkin.
Cemburu adalah tulisan kecemburuan yang bertele-tele namun tak punya kesimpulan. Karena ia sebenarnya bisa berakhir di titiknya bermula.
****
(Desember 11, 2011)